Written by Super User on . Hits: 11

     

JANGAN TINGGALKAN SEMBAHYANG

(Drs. H. Ahmad Fanani, M.H.)

   

   

Balikpapan | 18 Juni 2026

Anakku tentu pernah melihat bangunan berupa rumah, gedung, kantor, hotel, apartemen atau lainnya. Dari bangunan sederhana hingga yang mewah dan bertingkat, pasti pernah melihatnya. Bangunan tersebut ada yang berdiri dengan kokoh menjulang tinggi serta bisa bertahan lama. Namun ada pula bangunan yang rapuh, tidak kuat hingga ambruk dan bahkan hancur berkeping-keping. Tahukah kamu kenapa bangunan itu ada yang kokoh dan ada yang rapuh? Ketahuilah kokoh tidaknya suatu bangunan sangat bergantung pada pondasi serta tiang pancang sebagai penyangganya.

Jadi kunci kekuatannya ada pada pondasi dan tiang pancang. Seindah apapun bangunan itu kalau dua kekuatan tadi tidak menjadi perhatian, lambat laun bangunan itu segera ambruk. Namun jika keduanya menjadi perhatian serius, dalam arti diperkuat dan diperkokoh sejak awal, pasti bangunan akan selalu kokoh pula. Bukti banyak berbicara. Pernah kan terdengar berita? Bahwa ada di suatu tempat bangunan yang baru dibangun bisa ambruk seketika. Penyebabnya tidak tahan kena terpaan angin, getaran bumi, tidak kuat menampung air atau akibat hujan lebat.

Ambruknya bangunan bahkan mengakibatkan banyak korban. Beberapa orang luka-luka dan malah meninggal akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Pada sisi lain banyak pula bangunan yang berusia puluhan tahun dan malah sampai ratusan tahun masih tetap utuh. Tidak ada retak dan tidak ada tanda-tanda akan ambruk. Padahal sering juga tertimpa angin kencang dan getaran bumi. Sering pula hujan deras dan memuat kapasitas orang banyak, tetapi tidak berdampak pada bangunan. Tetap kuat tidak peduli waktu dan terpaan apapun.

Apa yang dikemukakan di atas merupakan gambaran kehidupan manusia memegang agama. Hidup manusia akan banyak menemukan rintangan dan cobaan. Bila tidak tegar menghadapi tidak jarang ada yang melakukan jalan pintas. Pernah dengar kan ada orang strees pikiran tidak menentu? Atau mungkin karena tidak tahan lagi menerima beban kehidupan sampai rela mengakhiri hidup dengan tragis. Minum obat penenang tapi over dosis hingga meninggal. Akibat depresi berat lalu gantung diri, minum racun, terjun dari tempat yang tinggi hingga mati. Na’udzubillah min dzalik.

Kita memiliki agama yang sempurna untuk menuntun kehidupan. Orang yang tidak tahan menghadapi terpaan kehidupan bagaikan bangunan yang tidak kuat. Pondasi dan tiang pancang agamanya rapuh. Karena itu hidup harus memiliki tuntunan agama yang kuat. Tujuannya agar hidup selalu terarah serta tidak terombang ambing oleh terpaan dan cobaan. Terpaan datang silih berganti melalui bisikan setan dan nafsu. Setan membisikkan supaya hidup manusia tergelincir dalam kesesatan dan kenistaan. Sedangkan nafsu bergelora menghembuskan keinginan menuruti bisikan setan dalam kebebasan.

Jika kuat tidaknya bengunan tergantung pada pondasi dan tiang pancang, maka begitu pula dengan agama seseorang. Bila ingin agama kita kuat bersemayam dalam jiwa, maka harus kita perkuat pula pondasi dan tiangnya. Bukankah kita pernah temukan orang yang agamanya lemah hingga rela menjual agama demi nafsu dunia? Tetapi sering pula kita saksikan banyak orang yang kuat memegang teguh agama dan tidak tergiur bisikan nafsu, apalagi bisikan setan. Semua tergantung pada kekuatan pondasi dan tiang pancang agamanya.

Apa itu pondasi dan tiang agama? Bagaimana pula memperkuat pondasi dan tiang pancang agama? Jawabnya sangat sederhana. Pondasi agama itu adalah iman dan tiangnya adalah shalat lima waktu. Iman dengan segala unsur-unsurnya terhunjam dalam keyakinan yang sempurna. Enam rukun iman benar-benar menjadi pondasi diri. Teraplikasi dalam tiga sikap, yaitu lisan mengucapkan kalimat iman, hati membenarkan apa yang diucapkan dan perbuatan membuktikan nilai keimanan. Bila antara ucapan, keyakinan dan perbuatan terpola dalam diri berarti memperkuat pondasi agama.

Adapun tiang agama adalah shalat. Ungkapan ini sangat jelas bersumber dari ucapan Nabi Muhammad SAW. Dalam salah satu haditsnya beliau mengatakan : “Ash-Shalatu imaduddiin, faman aqamaha faqad aqamad diin waman tarakaha faqad hadamad diin”. Shalat adalah tiang agama. Siapa yang mendirikan shalat dia adalah menegakkan agama dan siapa yang meninggalkan shalat berarti dia sedang meruntuhkan agama. Dari sini jelas tegak runtuhnya bangunan agama tergantung pada tiang pancangnya yaitu penegakan shalat lima waktu.

Secara bahasa shalat berarti do’a. Namun secara istilah merupakan gerakan ibadah yang terdiri dari ucapan dan perbuatan dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam serta dengan syarat-rukun tertentu. Shalat wajib lima waktu lumrah bagi umat Islam yaitu; Shalat Isya, shalat Subuh, shalat zuhur, shalat ashar dan shalat maghrib. Dari lima shalat ini jika disandingkan semua akan membentuk singkatan ISLAM. Silakan cermati Anakku! ISLAM boleh juga kepanjangan dari Isya, Subuh, Lohor (zuhur), Ashar dan Maghrib.

Shalat lima waktu adalah kewajiban bagi orang Islam yang sudah baligh dan berakal. Tidak boleh meningggalkannya kecuali bagi orang yang kebetuan uzur syar’i. Selama tidak ada uzur mesti menegakkan shalat. Satu waktu tertinggalkan akan menggeser tiang Islam. Misal ada orang yang meninggalkan shalat subuh maka akan terhapus huruf S, sehingga tidak terbaca ISLAM lagi melainkan ILAM. Atau tidak shalat Lohor (zuhur) maka yang terbaca hanyalah ISAM. Begitulah seterusnya dan apalagi kalau tidak mengerjakan shalat sama sekali tentu akan lenyap kata ISLAM dari dirinya.

Anakku! Shalat adalah tiang agama. Senada dengan iman yang harus teraplikasi dalam ucapan, keyakinan dan perbuatan. Belum sempurna iman seseorang bila tidak ditunjukkan dengan perbuatan nyata. Shalat adalah perintah Allah kepada orang Islam. Sejarahnya perintah ini langsung Nabi Muhammad SAW menerimanya pada saat perjalanan Isra Mi’raj. Hal ini menunjukkan arti pentingnya ibadah shalat. Bila seseorang mengaku beriman pasti dengan rela mengerjakan shalat. Bergerak maju melawan kemalasan demi menjalankan perintah Allah yang dia imani.

Perintah shalat selain terdapat ketika Nabi melakukan Isra Mi’raj, tersebar pula dalam banyak ayat Al-Qur’an. Konteksnya dengan menggunakan kalimat amar (perintah) yang menunjukkan wajib untuk dikerjakan. “Aqiimus shalah”, dirikan shalat. Sebuah instruksi dari Yang Maha Berkuasa. Orang dulu menyebut shalat dengan sebutan sembahyang, maksudnya “menyembah Yang Maha Kuasa Allah SWT. Walau ada segelintir orang yang mempermaslahkan istilah tersebut, tapi sebenarnya tidak masalah. Terpenting kerjakan sebagai persembahan kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Begitu juga dalam beberapa hadits Nabi terdapat penjelasan tentang kewajiban ini. Keutamaannya dan ancaman bagi orang yang meninggalkannya. Perbedaan yang nampak di antara pemeluk agama ialah shalat. Sembahyang menjadi atribut dalam agama Islam. Seorang yang mengerjakan sembahyang berarti dia menampakkan ke Islamannya. Sebaliknya orang yang tidak sembahyang berarti dia sedang menyembunyikan ke Islamannya. Orang yang mengerjakan sembahyang sedang menunjukkan kepatuhannya kepada Allah Yang Maha Kuasa. Orang yang enggan sembahyang sama dengan menunjukkan pembangkangannya kepada Tuhan.

Anakku, jangan tinggalkan sembahyang. Kegiatan ini bernilai sebuah gerakan kehidupan untuk mengaktifkan hati, ucapan lidah dan aktifitas tubuh. Tiga aktifasi ini sangat penting dalam kehidupan. Bukankah bila yang tiga macam ini tidak aktif, akan menjadi sebuah gejala kematian. Selain itu sembahyang yang kamu kerjakan dengan sempurna suatu saatnya pasti akan menolongmu. Dia akan menjadi cahaya penerang untuk memberi solusi bagi kehidupanmu. Ayo jangan malas untuk sembahyang. Raihlah keberuntungan dengan mengerjakan sembahyang.

(AF/BPP18/06/2026 Cuplikan Buku On Progres : “Anakku Sayang, Waktu Jangan Dibuang-buang”)

Hubungi Kami

Pengadilan Agama Balikpapan

Jalan Kol. H. Syarifuddin Yoes No.1
Kel. Sepinggan Baru
Kec. Balikpapan Selatan
Kota Balikpapan - 76114
Provinsi Kalimantan Timur
Telp: 0542 - 7219469
Fax: 0542 - 7219469
This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

lokasi Peta Kantor

© Copyright : Tim IT Pengadilan Agama Balikpapan | 2026